Saturday, May 12, 2007

Spekulasi Keberadaan Pesawat Adam Air


Seperti kita ketahui, hampir seminggu awal Januari ini negara kita dipusingkan oleh hilangnya satu pesawat Adam Air, yang sampai detik ini belum ditemukan rimbanya. Berbagai spekulasi seputar kasus ini muncul. Ada yang memperkirakan jatuh di hutan, danau, perairan, ada yang mengatakan pesawat tersebut disabotase. Pihak kelurga masih berharap anggota keluarga mereka yang berada di pesawat tersebut bisa ditemukan dengan selamat.

Pagi ini, saat saya menonton tayangan Good Morning di Trans TV, saya tertawa geli. Disitu ada pemberitaan tentang Adam Air lagi. Yang lucu, Menteri Perhubungan mengatakan radar Angkasa Pura II rusak. Sedangkan pihak Angkasa Pura II menyatakan tidak. Kemudian "disadari" yang rusak adalah radar Badan SAR nasional. Apakah radar boleh rusak? apa tidak ada cadangan radar? semiskin itukah Indonesia?(Saya yang berencana meminta anak-anak saya datang bulan ini ke Jakarta dengan naik pesawat dari Banjarmasin, akhirnya memutuskan menunggu sampai radar-radar itu benar-benar tidak ada yang rusak lagi.)

Kondisi ini keterlaluan sekali. Begitu banyak tim pencari dikerahkan, di darat, laut maupun udara. Sampai tim "khusus" alias cenayang pun dikerahkan juga. Roy Suryo pun sampai terlibat. Apa saya harus berkomentar pesawat itu dibawa UFO? Masalah selular salah satu korban yang dinyatakan oleh pihak keluarga sempat bisa dihubungi, itu bisa saja terjadi. Memang pada saat penerbangan semua selular harus dimatikan, tapi apakah semua penumpang menaati itu? Terakhir saya naik pesawat, saat itu naik Garuda, masih ada penumpang bandel yang tepat duduk di samping saya tidak mematikan selularnya. Atau bisa saja sesudah kecelakaan terjadi, penumpang tersebut mengaktifkan selularnya. Bisa saja kan, Pak Roy?

Kemudian, ada juga spekulasi bahwa kawasan ilangnya pesawat tersebut adalah "segitiga bermuda" Indonesia. Pesawat-pesawat lain yang lewat kawasan tersebut sebelum ini kenapa tidak ada yang kena musibah?

Yang diperlukan disini adalah, analisa mendetil bukan spekulasi kemudian spekulasi lagi yang akhirnya membuat masalah menjadi melebar. Bukan banyak spekulasi dangkal yang dibutuhkan, tetapi analisa mendalam. Perlu diambil bukti-bukti kongkrit, dari sejak kondisi pesawat saat berangkat, jumlah bahan bakar, range penerbangan yang mungkin dilalui pesawat dengan jumlah bahan bakar tersebut, jumlah penumpang, siapa saja yang naik dalam pesawat itu, muatan selain penumpang apa saja, jumlah komunikasi yang dilakukan pesawat, titik-titik yang dilalui pesawat apakah benar seperti yang direkam oleh radar, komunikasi terakhir apakah pilot menyatakan sesuatu yang tidak wajar, dan banyak lagi.

Dengan bukti, baru kita dapat menuju ke suatu kumpulan pernyataan kuat dan lemah. Tinggal dipilah mana yang akan menjadi "tersangka" dan akhirnya didapatkan "terdakwa"nya.


No comments: